Rabu, 30 Desember 2020

MANAJEMEN KUALITAS PROYEK PERANGKAT LUNAK

Manajemen kualitas perangkat lunak adalah proses manajemen yang bertujuan untuk mengembangkan dan mengelolakualitas perangkat lunak sedemikian rupa untuk memastikan produk memenuhi standar kualitas yang diharapkan oleh pelanggan sekaligus memenuhi semua persyaratan peraturan dan pengembang yang diperlukan, jika ada. Manajer kualitas perangkat lunak memerlukan perangkat lunak untuk diuji sebelum dirilis ke pasar, dan mereka melakukannya dengan menggunakan penilaian kualitas berbasis proses siklus untuk mengungkap dan memperbaiki bug sebelum dirilis. Tugas mereka tidak hanya memastikan perangkat lunak mereka dalam kondisi yang baik bagi konsumen, tetapi juga mendorong budaya kualitas di seluruh perusahaan.

Terdapat tiga aktivitas utama dari manajemen kualitas proyek antara lain sebagai berikut

1. Perencanaan kualitas (Quality Planning)

Mmengidentifikasikan standard kualitas yang sesuai dengan disain proyek dan bagaimana memuaskannya.

a. Jaminan kualitas (Quality Assurance), evaluasi periodic terhadap keseluruhan performa proyek untuk memastikan proyek akan memuaskan standard kualitas yang relevan.

b. Pengendalian kualitas (Quality Control), memonitor  hasil proyek tertentu untuk memastikan hasil tersebut sesuai denga standard kualitas relevan serta mengidentifikasikan cara untuk meningkatkan kualitas keseluruhan.

Software disebut berkualitas jika bisa mengerjakan apa yang diinginkan oleh pemakainya, memakai sumber daya komputer secara benar dan efisien, mudah untuk dipelajari dan digunakan oleh pemakainya, dan pengembang perangkat lunak bisa mendesain, menuliskan source code, melakukan uji coba (testing) dan memelihara (maintain) sistem tanpa kesulitan yang berarti.

Software quality factors dari Hewlett-Packard

a. Functionality : diukur denganmengevaluasi fasilitas dan kemampuan dari program

b. Usability : diukur dari faktor manusia yang memakai sistem (estetika, konsistensi dan dokumentasi)

c. Reliability : dievaluasi dengan mengukur frekuensi kegagalan (error), akurasi output, MTBF(mean time between failure) dan kemampuan mengatasi error

d. Performance : diukur dari kecepatan proses, respon, pemakaian sumber daya dan efisiensi

Supportability : gabungan dari extensibility, adaptability dan serviceability (ketiganya lebih dikenal dengan istilah maintainability) beserta testability, compatibility, configurability, kemudahan instalasi dan identifikasi problem

TIM PROYEK PERANGKAT LUNAK

 SEDANG DIPERBAIKI..

RESIKO PENGEMBANGAN PROYEK PERANGKAT LUNAK

Manajemen Risiko Proyek

Adalah sebuah proses sistematis untuk merencanakan, mengidentifikasi, menganalisis, danmerespon risiko proyek. Tujuannya untuk meningkatkanpeluang dan dampak peristiwa positif, dan mengurangipeluang dan dampak peristiwa yang merugikan proyek.

Manajemen resiko proyek adalah seni danilmu untuk mengidentifikasi, menganalisis,dan menanggapi resiko di seluruh kehidupansuatu proyek dan kepentingan terbaik tujuanpertemuan proyek. Manajemen resiko sering terabaikan dalamproyek, tetapi dapat membantumeningkatkan kesuksesan proyek denganmembantu proyek-proyek baik inisiasi,lingkup proyek, dan mengembangkanperkiraan realistis.

1. Perencanaan Manajemen Risiko

a.  Proses memutuskan bagaimana mendekati dan melaksanakan aktivitas manajemen risiko

b. Memastikan tingkat, tipe, dan visibilitas manajemen risiko yang setara dengan risiko dan kepentingan proyek bagi organisasi

c.  Menyediakan sumberdaya dan waktu yang memadai untuk aktivitas manajemen risiko.

d. Menetapkan basis yang disepakati untuk mengevaluasi risiko.


2. Identifikasi risiko

a. Menentukan risiko-risiko yang mempengaruhi proyek dan mendokumentasikan karakteristiknya.

b. Peserta yang terlibat: manajer proyek, anggota tim proyek, anggota manajemen risiko, ahli teknis diluar tim proyek, customer, end user, dan ahli manajemen risiko.

c. Merupakan proses iteratif karena risiko-risiko baru mungkin diketahui sebagai kemajuan proyek melalui siklus hidupnya.


3. Analisis Risiko Kualitatif

a. Menilai prioritas risiko teridentifikasi menggunakan peluang terjadinya dan dampaknya terhadap tujuan proyek bila risiko itu terjadi

b. Menilai faktor-faktor lain seperti kerangka waktu dan tolerasi risiko dari kendala biaya, jadwal, ruang lingkup, dan mutu.


4. Analisis Risiko Kuantitatif

a. Dikerjakan berdasarkan risiko yang diprioritaskan oleh proses analisis risiko kualitatif

b. Proses menggunakan teknik seperti simulasi montecarlo dan pohon keputusan untuk menghitung hasil yang mungkin dan peluangnya, menilai peluang untuk mencapai tujuan proyek, mengidentifikasi risiko yang membutuhkan perhatian paling besar dengan menghitung kontrubisi relatifnya terhadap keseluruhan risiko proyek, mengidentifikasi biaya, jadwal, dan target ruang lingkup yang realistik dan dapat dicapai dan menentukan keputusan manajemen proyek ketika beberapa kondisi atau hasil tidak pasti   

Selasa, 27 Oktober 2020

MANAJEMEN PROYEK PERANGKAY LUNAK

Studi kelayakan adalah tahap yang paling penting, karena didalamnya menyangkut berbagai aspek sistem baru yang diusulkan, antara lain :

1. Menentukan unit atau bagian mana yang akan menggunakan. Dilakukan dengan wawancara dengan calon user lansung dan kepala bagian divisi yang bersangkutan.
2. Mengantisipasi kemungkinan keterbatasan dan kendala pada penerapannya, misalnya : sistem tersebut harus menyelesaikan prosesnya sebelum jam kerja berakhir.
3. Memperhitungkan kendala-kendala sistem, misal : kapasitas memori yang terbatas.
4.Menentukan target, misalnya suatu jawaban untuk permintaan pesanan harus dapat dilayani kurang dari sekian detik.
5. Mengantisipasi kendala waktu, misalnya sistem yang baru harus sudah berjalan dalam waktu sekian bulan, sejak sistem lama sudah tidak diperluas lagi.
6. Merencanakan dan memperkirakan biaya proyek, berdasarkan : perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk merancang, mengembangkan, menguji, dan memulai sistem baru dan kerumitan sistem yang dirancangan.

 

Tujuan

1. Memperhitungkan sifat penyusunan sistem dengan memperhitungkan keberadaan masalah dan sifat masalah. Contoh : jika fakultas melaporkan masalah keterlambatan penyetoran nilai dari dosen, kita ingin mengetahui apakah penyetoran nilai benar-benar terlambat atau apakah fakultas salah dalam memberitahu kapan nilai paling lambat disetorkan.
2. Memperhitungkan jangkauan masalah. Contoh : apakah masalah tentang keterlambatan penyetoran nilai hanya pada fakultas tertentu atau seluruh fakultas yang ada, sehingga perlu dianalisa lebih luas.
3. Mengajukan aksi-aksi yang dapat menyelesaikan masalah. Contoh : mengajukan penyusunan sistem untuk nilai yang terlambat disetor karena implikasinya pada beberapa SKS yang dapat diambil mahasiswa semester berikutnya.
4. Memperhitungkan kelayakan penyusunan sistem yang diajukan. Contoh : apakah ada penyelesaian yang layak secara teknis untuk masalah tersebut, atau apakah ada penyelesaian yang layak secara ekonomis untuk masalah tersebut.
5. Menyusun rencana secara rinci untuk langkah analisis sistem. Contoh : siapa yang melakukan analisis sistem, siapa yang memimpin analisis sistem, siapa yang memimpin analisi sistem, apa tugas-tugas yang diperlukan dan jadwal analisis sistem.
6. Menyusun rencana ringkasan untuk seluruh proyek penyusunan sistem. Contoh : kapan sistem akan diimplementasika.

Adapun beberapa hal yang perlu diperhatkan disaat penelitian awal yaitu sebagai berikut

1. Mencoba memahami dan memperjelas apa yang diharapkan oleh pemakai atau pengguna
2. Menentukan ruang lingkup dari studi sebuah sistem
3. Menentukan kelayakan dari masing-masing alternatif dengan memperkirakan keuntungan/kerugian yang didapat.

Mengumpulkan Data

1. Memperhitungkan keberadaan masalah
2. Mendefinisikan masalah
3. Memperhitungkan jangkauan masalah
4. Mendapatkan informasi untuk melakukan studi kelayakan awal.
5. Menyusun rencana untuk melakukan analisis.

Dalam mengumpulkan fakta, hal yang harus dilakukan yaitu

1. Interview : Mengumpulkan informasi melalui kontak langsung dengan pemakai untuk kesepahaman terhadap sistem, masalah-masalah sistem dan permintaan pemakai.
2. Presentasi Internal : bilamana perlu, analisis sistem meminta personil bagian tertentu untuk presentasi internal yang secara formal menggambarkan atau menampilkan informasi dalam bagian tertentu.
3. Pemeriksaan Literatur Internal : Meliputi pemeriksaan dokumen, bagian organisasi, DFD, flowchart dan manual yang lain yang merupakan sumber informasi tentang sistem informasi atau sistem operasi bagian tersebut.
4. Pengamatan : analisis sistem melakukan walkthrouh, yaitu mengikuti proses transaksi yang ada pada sebuah bagian dari awal sampai akhir.
5.Pemeriksaan File : setelah langkah 1-4 dilakukan, maka akan dilakukan pemeriksaan terhadap file-file yang berhubungan dengan pemprosesan transaksi.

Melakukan Studi Kelayakan Awal

1. Kelayakan Teknik : jika tim penyusunan sistem dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan hardware dan software yang tersedia.
2. Kelayakan Operasi : jika tim penyusun sistem dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan personel dan prosedur yang ada.
3.Kelayakan Ekonomis : jika tim penyusun sistem dapat menyelesaikan masalah tersebut dalam waktu dan anggaran biaya yang masuk akal, artinya keuntungan sistem melebihi keuntungan biaya penyusunan sistem.

 

Menyusun Rencana Proyek

1. Menjadwalkan penggunaan sumber daya yang dibutuhkan.
2. Menentukan tahap utama dalam proyek unutk mengamati kemajuan proyek.
3. Memperkirakan anggaran proyek yang berguna untuk melanjutkan proyek.
4. Menyusun petunjuk untuk membuat keputusan melanjutkan atau tidak melanjutkan.
5. Menyusun kerangka kerja untuk mengukur kebenaran dan kelengkapan langkah-langkah dalam proyek.

Peralatan yang digunakan untuk menyusun rencana proyek :

Context Diagram, Workflow, Time Schedule dan Diagram PERT

Mendapatkan Persetujuan

Mendapatkan persetujuan untuk draft dokumen kelayakan, analisis sistem memastikan bahwa isi draft dokumen tersebut benar, lengkap dan memuaskan pemakai.

1. Persetujuan pemakai (terhadap sistem yang akan disusun)
2. Persetujuan pihak manajemen : (stakeholders) terhadap kelanjutan penyusunan sistem

Selasa, 06 Oktober 2020

PROJECT DEVELOPMENT LIFE CYCLE

PENGERTIAN

    Sebuah proyek memiliki awal dan akhir dan melewati beberapa fase yang dikenal sebagai fase life cycles. fase ini bervariasi tergantung pada industri yang terlibat tetapi semua mengikuti langkah-langkah dasar yang sama. Project Life Cycles merupakan serangkaian tahapan yang dilewati oleh sebuah proyek mulai dari tahap persiapan sampai dengan closure proyek.


FASE 1 - INITIATION

    Tahap pertama dalam project life cycles atau dasar dalam memulai sebuah proyek. Dengan mendefinisikan tujuan dan ruang lingkup, pembenaran untuk memulai dan solusi yang akan dilaksanakan. Fase inisiasi mencakup dalam memulai proyek, dengan mendokumentasikan kasus bisnis, studi kelayakan, kerangka acuan, menunjuk tim, dan menyiapkan Office Project. Selama fase ini, tim pengambilan keputusan akan mengidentifikasi apakah proyek tersebut secara realistis dapat diselesaikan.

Tahapan :
1. Develop a business case
2. Undertake a feasibility study
3. Establish the terms of reference
4. Appoint a project team
5. Setup a project office
6. Perform phase review


FASE 2 - PLANNING

    Planning atau perencanaan, ketika ruang lingkup proyek telah ditetapkan dan tim proyek terbentuk, maka aktivitas proyek mulai memasuki tahap perencanaan. Pada tahap ini, dokumen perencanaan akan disusun secara terperinci sebagai panduan bagi tim proyek selama kegiatan proyek berlangsung.

Tahapan :
1. Create a project plan
2. Create resource plan
3. Create a financial plan
4. 
Create a quality plan
5. 
Create a risk plan
6. Perform phase review
7. Contract the suppliers
8. Create a procurement plan
9. Create a communicatiosn plan
10. Create an acceptance


FASE 3 - EXECUTION

    Executing atau Pelaksanaan, dengan definisi proyek yang jelas dan terperinci, maka aktivitas proyek siap untuk memasuki tahap eksekusi atau pelaksanaan proyek. Pada tahap ini, deliverables atau tujuan proyek secara fisik akan dibangun. Seluruh aktivitas yang terdapat dalam dokumentasi project plan akan dieksekusi. Sementara setiap deliverable sedang dibangun, suite proses manajemen yang dilakukan untuk memantau dan mengontrol kiriman menjadi output dengan proyek. Pada tahap ini manajer proyek juga memonitor dan mengontrol kegiatan.

Tahapan :
1. Perform phase review


FASE 4 - CLOSUR

    Closing atau Penutupan, tahap ini merupakan akhir dari aktivitas proyek. Pada tahap ini, hasil akhir proyek (deliverables project) beserta dokumentasinya diserahkan kepada pelanggan, kontak dengan supplier diakhiri, tim proyek dibubarkan dan memberikan laporan kepada semua stakeholder yang menyatakan bahwa kegiatan proyek telah selesai dilaksanakan. Langkah akhir yang perlu dilakukan pada tahap ini yaitu melakukan post implementation review untuk mengetahui tingkat keberhasilan proyek dan mencatat setiap pelajaran yang diperoleh selama kegiatan proyek berlangsung sebagai pelajaran untuk proyek-proyek dimasa yang akan datang.

Tahapan :
1. Perform project closur
2. Review project competion

Selasa, 29 September 2020

MANAJEMENT PROYEK PERANGKAT LUNAK

 Apa Itu Proyek ?

Proyek dalam bisnis dan ilmu pengetahuan biasanya didefinisikan sebagai sebuah usaha kolaboratif dan juga sering kali melibatkan penelitian atau desain, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Proyek dapat juga didefinisikan sebagai usaha sementara,temporer, dan bukan permanen, yang memiliki sasaran khusus dengan waktu pelaksanaan yang tegas. Proyek adalah sebuah kegiatan yang bersifat sementara, dimana telah ditetapkan waktu awal dan berakhirnya, untuk mencapai tujuan serta memperoleh hasil yang spesifik. Pada umumnya, proyek menghasilkan sebuah perubahan yang bermanfaat dan memiliki nilai tambah. Proyek dibatasi oleh waktu, ruang lingkup pekerjaan, dan sumber pendanaan.


Apa Itu Manajement ?

Secara etimologis, pengertian manajemen merupakan seni untuk melaksanakan dan mengatur. Manajemen ini juga dilihat sebagai ilmu yang mengajarkan proses mendapatkan tujuan dalam organisasi, sebagai usaha bersama dengan beberapa orang dalam organisasi tersebut sehingga ada orang yang merumuskan dan melaksanakan tindakan manajemen yang disebut dengan manajer. Secara umum, pengertian manajemen merupakan suatu seni dalam ilmu dan pengorganisasian seperti menyusun perencanaan, membangun organisasi dan pengorganisasiannya, pergerakan, serta pengendalian atau pengawasan. Bisa juga diartikan bahwa manajemen merupakan suatu ilmu pengetahuan yang sistematis agar dapat memahami mengapa dan bagaimana manusia saling bekerja sama agar dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain maupun golongan tertentu dan masyarakat luas. Manajemen adalah sebuah proses untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan cara mengatur, mengelola, dan mengarahkan orang lain agar dapat mencapai tujuan tertentu. Proses manajemen terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.


Apa Itu Perangkat Lunak ?

Perangkat Lunak (software) adalah sebuah istilah khusus untuk data yang diformat dan disimpan secara digital, termasuk program komputer, dokumentasinya, dan berbagai informasi yang dapat dibaca dan ditulis oleh komputer. Perangkat Lunak merupakan bagian  dari sistem komputer yang tidak berwujud, karena ia merupakan aplikasi atau program yang berisi sekumpulan instruksi untuk menjalankan perangkat keras (hardware) komputer. Perangkat Lunak berperan sebagai penghubung antara pengguna dengan perangkat keras computer.


Manajement Proyek Perangkat Lunak

Dengan menggabungkan ketiga arti kata tersebut, jadi Manajemen Proyek Perangkat Lunak adalah suatu proses kegiatan untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan sumber daya untuk membuat suatu perangkat lunak atau program komputer, serta mencapai tujuan tertentu dalam batasan waktu, ruang lingkup, dan biaya. Manajemen proyek perangkat lunak merupakan bagian yang penting dalam pembangunan perangkat lunak. Tidak bersifat teknis seperti pengkodean. Manajemen proyek PL inimampu menentukan apakah proyekakan berjalan dengan baik sehingga menghasilkan produk yang baik. Berkaitan dengan manajemen adalah pengelolaan personel dan koordinasitim, proses, pengukuran proyek-termasuk menentukan harga dari PL, penjadwalan dan sebagainya.

Manajemen yang buruk akan mengakibatkan kegagalan proyek, missal perangkat lunak dikirimkan terlambat, memakan biaya yang lebih tinggi, dan gagal memenuhi persyaratan pemesan Manajer perangkat lunak melakukan pekerjaan yang sama dengan manajer proyek yang lain. Namun memiliki perbedaan yaitu manjemen perangkat lunak lebih sulit dan sering menimbulkan masalah. Beberapa perbedaan tersebut adalah: Produk perangkat lunak tidak berujud Manajer proyek rekayasa sipil dapat melihat produk yang dikembangkan, sehingga dapat langsung melihat hasil/efek dari barang tersebut. Manajer proyek perangkat lunak tidak dapat dilihat dan disentuh, sehingga tidak dapat dilihat kemajuannya. Mereka sangat tergantung pada orang lain yang membuat dokumentasi yang dibutuhkan untuk meninjau kemajuan Tidak ada proses perangkat lunak standar Kita tidak memiliki pemahaman yang jelas mengenai hubungan antara proses perangkat lunak dan jenis produk. Pemahanan kita mengenai prose perangkat lunak telah berkembang secara signifikan beberapa tahun terakhir, namun demikian kita tetap tidak dapat meramalkan dengan pasti suatu proses software akan menyebabkan masalah. Proyek perangkat lunak yang besar seringkali merpakan proyek one-off Akibat dari perkembangan teknologi missal dalam bahasa pemrograman, maka menyebakba seringkali proyek hanya dipakai sekali dan tidak dapat ditrasfer ke proyek yang baru. Menentukan manajement proyek perangkat lunak perlu adanya wawasan luas bagaimana dapat meminimalisir kesalahan karena akan sangat berdampak buruk bagi perusahaan. Dikutip dari beberapa sumber resiko manajemen proyek perangkat lunak, dapat diperhatikan beberapa tahapan dalam menghindari maupun tindak lanjut atas resiko yang ada.

 

 

Kamis, 21 November 2019

Unveiling the Potentials of Circular Economy Values in Logistics and Supply Chain Management

UNVEILING THE POTENTIALS OF CIRCULAR ECONOMY VALUES IN LOGISTICS AND SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

I. Abstract
a. Purpose – The paper aims to unveil the Circular Economy (CE) values with an ultimate goal to provide tenets in a format or structure that can potentially be used for designing a circular, closed-loop supply chain and reverse logistics.
b. Design/methodology/approach – This is desk-based research whose data were collected from relevant publication databases and other scientific resources, using a wide range of keywords and phrases associated with CE, reverse logistics, product recovery, and other relevant terms. There are five main steps in the reformulation of CE principles: literature filtering, literature analysis, thematic analysis, value definition, and value mapping.
c. Findings – Fifteen CE values have been identified according to their fundamental concepts, behaviours, characteristics, and theories. The values are grouped into principles, intrinsic attributes and enablers. These values can be embedded into the design process of product recovery management, reverse logistics, and closed-loop supply chain.
d. Research implications – The paper contributes to the redefinition, identification, and implementation of the CE values, as a basis for the transformation from a traditional to a more circular supply chain. The reformulation of the CE values will potentially affect the way supply chain and logistics systems considering the imperatives of circularity may be designed in the future.
e. Originality/value – The reformulation principles, intrinsic attributes, and enablers of CE in this paper is considered innovative in terms of improving a better understanding of the notion of CE and how CE can be applied in the context of modern logistics and supply chain management.

II. Introduction
The Circular Economy (CE) is defined as a global economic model to minimise the consumption of finite resources, which focuses on the intelligent design of materials, product, and systems (EMF, 2013a). It also supports separating treatment between technical and biological materials to maximise the design for reuse, to return to the biosphere and retain value through innovations across fields (Webster, 2015; Lacy and Rutqvist, 2015). Transitioning from the linear to a circular economy not only requires a fine-tuning that reduces the negative impacts of the linear economy, but also a whole system approach that builds upon a number of guiding principles. These principles allow resilience to be built into the CE system, ensuring the long-term generation of economic opportunities and at the same time offering societal and environmental benefits.
III. Research programme
a. Aim, objectives and approach
The aim of this paper is to unveil the Circular Economy (CE) values with an ultimate goal to provide tenets in a format or structure that can potentially be used for designing a circular, closed-loop supply chain and reverse logistics. To achieve the aim, the following objectives have been set to identify the existing principles of CE and then redefine and reformulate these into the CE values.
b. Search Strategy
The approach adopted was mainly through a systematic literature review whose data were collected from relevant publication databases and other scientific resources, using a wide range of keywords and phrases associated with CE, and other related keywords, for instance. principle, reverse logistics, product recovery, repair, refurbishment, remanufacturing, and cannibalisation. These were then combined with the publicly available materials and various media (case studies, videos, seminars, presentations
The literature in Table 1 was identified by reading the title. If the titles met this research purpose, they were collected and stored. The next process was to read the abstract and keywords. In this process the literature was classified based on its similar purpose and keywords. Reading the full paper was necessary in order to analyse CE characteristics, principles, values, concepts, case studies, and other relevant research results more deeply. Within the selection process of the literature, some filtering criteria, such as types of document (journal and conference papers) and language (English), were applied.
There are six steps that were adopted: data collection, data filtering, literature analysis, thematic analysis, CE values definition and mapping of CE value.


IV. Results
a. Reformulation of CE Principles
Data Filtering
All potential sources of papers were filtered by various processes: reading the title, abstract, keywords and full paper filtering; those filtering processes resulted in 51 papers.

Literature Analysis
The 51 papers were then analysed to obtain various essential themes (such as from the intersection of definitions, characteristics, principles, or other information across the authors). For example, Pearce and Turner (1990), EMF (2013a), and Lacy and Rutqvist (2015) conveyed CE definitions; they explained the similar terms (such as those about the economy, environment, circularity, etc.). The analysis continued by mapping the relevant information provided by each author (See Figure 2 which illustrates the 51 authors). After the analysis process and regrouping, those keys with a similar meaning will be grouped within one representative key. The results of regrouping are shown in Table 3. In this process, 12 themes were found: economy, environment, circularity, system thinking, cascades, reverse cycle, collaboration, recovery, market, technology, innovation, and waste.


Thematic Analysis
The information in Table 3 was analysed to produce the CE principles, while the values describe the specific usefulness of the concept. In this stage, a deeper analysis was required, in which each theme above will be defined in order to find the consistency of the theme. Through this stage, the CE values will be reformulated. In fact, one theme can produce one or more values and one theme possibly can overlap others as well. Basically, those themes shown above were reformulated to find the suitable CE values. For example, the “economy” theme will be analysed based on all information surrounding the theme, such as the position of the economy in this concept, in what way the economic extension will influence the implementing process, and how to implement this aspect, etc. The information discovered was elaborated to represent the CE value from the “economy” aspect.

Circular Economy Values Definition
The 15 CE values need to be defined; this process has been completed by using all of the information that was collected.
- Value #1. Systems thinking suggests that CE has to be looked at holistically, and all of the elements/components in the CE have to be considered as a system that integrates and influences one with another. (Chen, 2009; Li et al., 2009; EMF, 2013a).
- Value #2. Circularity advocates developing a circular process to preserve the value of a product or component or material by keeping it in use longer through, e.g. repair, reuse, remanufacture and recycle (Pintér, 2006; Yong, 2007; Chen, 2009; Mathews and Tan, 2011; Yang, 2011; EMF, 2015; Lacy and Rutqvist, 2015; UNEP, 2015; Webster, 2015; Blomsma and Brennan, 2017; Hollander et al., 2017).
Value #3. Innovation enables CE by suggesting the use of new, novel methods and ideas to stimulate redesign and rethink a system in CE to reach the optimum results of its purpose (IMSA, 2013; Sempels, 2013).
- Value #4. Built-in resilience is related to the internal capacity, robustness and responsiveness of a CE system to recover quickly from various disturbances, e.g. economy, technology, etc. (EMF, 2013a, 2015), hence becoming more resilient.
- Value #5. Cascades orientation aims to keep the materials, be they products, components or materials or biological nutrients, longer in circulation and for them to be transformed into different types of products or materials (IMSA, 2013; EMF, 2015; Lacy and Rutqvist, 2015; Webster, 2015; Hollander et al., 2017; Kalmykova et al., 2018; Vouvoulis, 2018).
- Value #6. Waste elimination emphasises that waste must be eliminated from the very beginning of the product design, and systematically considers, at subsequent circulation stages, how waste can be further reduced and eliminated (Geng et al., 2009; Mathews and Tan, 2011; Blomsma and Brennan, 2017; Vouvoulis, 2018
- Value #7. Technology-driven, suitable and economically viable technologies may be adopted to enable tracing the materials and products throughout the circulation, particularly in product recovery. The main goal is to achieve efficiency and effectiveness that supports the optimisation of operations (Geng and Doberstein, 2008; Pan et al., 2015).
- Value #8. Market availability, be it a new or existing one, will enable the CE to create new business opportunities, thus encouraging the reusability of products, components or materials (Geng and Doberstein, 2008; Preston, 2012; Stahel, 2013; Ma et al., 2015).
- Value #9. Optimisation of change is essential in the implementation of system or business models affected by the dynamics of problems, and takes into account the environmental, resources, technology, and consumer demand (EMF, 2013a, 2015)
- Value #10. Economic optimisation aims to achieve the production and consumption, service and supply of money, so that a resilient economy can be created, e.g. by improving material productivity, enhancing innovation capabilities, or shifting from mass production to skilled labour (Pintér, 2006; Yong, 2007; Ma et al., 2015; Kalmykova et al., 2018)
- Value #11. Maximisation of retained value aims to retain products or components that, over time, decline in value, by creating a suitable treatment system so that the value can be prolonged (Yuan et al., 2006; Huamao and Fengqi, 2007; Dajian, 2008; Mathews and Tan, 2011).
- Value #12. Leakage minimisation upholds the avoidance of loss of opportunities to maximise the cascaded usage period of (a) biological materials and the inability to incorporate the nutrient back into the biosphere due to contamination, and (b) technical materials that are lost due to loss of materials, energy, components and materials are not (or cannot be) recovered. (EMF 2013a, 2015).
- Value #13. Collaborative network is needed for the creation of materials’ standards and information flow in the circularity and allows stakeholders to work together within an industry sector or between different sectors to achieve common goals (Geng and Doberstein, 2008; Hu et al., 2011; Preston, 2012).
- Value #14. Shift to renewable energy highlights the ability of the CE to reduce the energy usage per unit of output and accelerates the shift towards renewable energy by design, treating the economy as a valuable resource (Pinjing et al., 2013; Ma et al., 2015; Pan et al., 2015).
- Value #15. Environmental consciousness promotes the conservation of environmental resources and reduction of environmental impacts by adhering to environmental regulations (Hongchun, 2006; Zhu et al., 2010; Pinjing et al., 2013; Su et al., 2013; Hollander et al., 2017).

Mapping the Circular Economy Values
The last stage is mapping/grouping. It is used to evaluate the 15 values of the CE that have been formulated before. The regrouping was done to find the consistency of the definition of CE values reformulation, the sequence between one item and others, and the implementation of the values in specific cases. The 15 items need to be classified with an appropriate name into some layers of the values of the CE. The layers are classified into: principle, intrinsic attribute, and enabler. The first layer indicates the essential activities/values/rules that should be followed to implement a CE. The second layer describes the internal CE characteristics as natural elements. The third layer is about some external aspects surrounding the CE that will support the practicality, possibility, and continuity in the implementation of a CE.
Having identified the layers of CE items, the next step was to classify the items into layers based on the above-mentioned definitions and characteristics. To facilitate the classification or grouping into the appropriate layer, the following phrases were applied. The phrases describe the characteristics of each layer.
1. First layer (a principle)
(A1) A noun that emphasises reusability
(A2) A noun that relates to the environment
(A3) A noun that relates to the economy
(A4) A noun that can be measured and controlled
2. Second layer (an intrinsic attribute)
(A5) A noun that connects with the nature of the CE
(A6) A noun that mentions an internal, genuine CE characteristic
(A7) A noun that mentions advancement and achievement
(A8) A noun that can motivate the CE implementation
3. Third layer (an enabler)
(A9) A noun that has a role as assistant/facilitator
(A10) A noun as an element from the external environment
(A11) A noun that supports at the operational level
(A12) A noun that describes external facilitation

V. Discussion
a. Circular Economy (CE) Values
The CE is a concept that has a wide coverage area: economy, ecology, social, technology aspects, etc. Within these areas, there are many activities from flow of raw material to becoming a product and vice versa. Each flow distinguishes the type of material (biological/technical). The flow also consists of some processes such as collection, maintaining, redistributing, or cascading. All of the processes are done to support regenerative and restorative determinants that can systematically support the balanced life system. This concept also has the general purpose of contributing to global economic opportunity. The understanding of a concept is needed to be able to implement the concept within the real system. By formulating CE principles in an available format, the adopting and understanding.

b. Implications for Logistics and Supply Chain Management (SCM)
The CE principles reformulation can potentially be used in the supply chain particularly into a more circular, closed-loop supply chain. The closed-loop supply chain has two distinct flows. Forward flows aiming to minimise services and cost, and reverse flows (also known as reverse logistics) to recover the unwanted, broken or end-of-life products from customers for return to the manufacturers. The complexity of products, services, and processes in the closed-loop supply chain increase as the business models of the CE grow. The business models require the supply chain to handle the transition in an agile manner, and in this respect, CE values can support this transition. As the CE focuses on keeping products, components, and materials at their highest utility and value at all times, this will affect the upstream processes in the supply chain, right from the process of manufacturing raw material to become products, until the products are received by customers. As mentioned above, in a closed-loop supply chain, the return management and reverse logistics services play an important role in handling returned or end-of-life products. Product returns have increased in recent years, along with changes in the scope and choice of product and services, and also trade-offs (Weetman, 2017) and therefore the return management and reverse logistics need to be handled properly. This can possibly be done by embedding the CE values into the design of a reverse logistics process that optimises the supply chain operations in general.

c. Embedding CE Values in Logistics & Supply Chain Management
Embedding CE values can help facilitate a better understanding in designing, structuring, and evaluation of the supply chain, which are in fact values that the SCOR model aims to achieve. Embedding implies redesigning the business processes by including CE values, for example, circularity, collaborative network, cascades orientation, maximisation of retained value, into the reverse logistics and return management. Return management deals with the return of product and the supporting services for customer post-delivery, which may involve.

VI. Conclusions
Fifteen circular economy principles have been reformulated comprehensively by Means of a systematic literature review. During the reformulation process of the CE principles, it was found that not all of them could be categorised as principles; some were termed as intrinsic attributes or the natural characteristics of CE, and enablers, which were identified as the operational drives to facilitate the operationalisation of a CE system. In this paper, the principles, intrinsic attributes and enablers are termed the CE values. The reformulation of CE principles that exist in the body of literature can also facilitate in the implementation of, for example, reverse logistics and closed-loop supply chains. Whilst some researchers previously described the CE principles at a conceptual level, this research has offered more detailed, operationalisation aspects of the CE via the three groups of CE values mentioned above.
The way the CE values have been formulated in this study opens up an opportunity to other researchers to continue to amend the collection of the CE values. Going forward, it is intended to develop a method that describes in detail the embedding process of CE values into product recovery. Imminent challenges in CE will continue to be unravelled, in particular related to the uncertainty aspects in product recovery, especially when the products have a long-life cycle.
a. transportation, warehousing, 3rd and 4th party logistics, and reverse logistics itself. The circular initiative can be developed through embedding CE principles into these functions